3/9/12

Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing melalu Cerita Tradisi Lisan

Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing
melalu Cerita Tradisi Lisan

Nani Pollard
University of Melbourne, Melbourne, Australia

Abstrak

Makalah ini akan membahas pengajaran bahasa Indonesia melalui cerita tradisi lisan bagi pembelajar asing. Pembahasan utama dari makalah ini adalah daya tarik penggunaan cerita tradisi lisan bagi pembelajar asing dibandingkan dengan materi noncerita. Pembahasan ini didasarkan pada pengalaman mengajar di Universitas Melbourne.

Sisi penting dari makalah ini adalah upaya menjawab pertanyaan mengenai keunggulan dan kelemahan dalam menggunakan cerita tradisi lisan, dan tentang ketertarikan pembelajar asing atas cerita tradisional dibandingkan dengan pengajaran secara konvensional. Pertanyaan lain yang juga perlu dikupas di sini adalah apakah cerita tradisi lisan menempati posisi penting dalam pengajaran bahasa Indonesia atau merupakan pelengkap pengajaran saja. Perhatian pembelajar asing terhadap nilai-nilai budaya yang ada dalam cerita tradisi lisan tersebut juga akan dianalisis.


1. Pendahuluan

Dalam makalah ini pembahasan utama adalah daya tarik penggunaan cerita tradisi lisan bagi pembelajaran asing dibandingkan dengan materi noncerita berdasarkan pengalaman mengajar di Universitas Melbourne. Selain itu, pembahasan juga didasarkan pada wawancara dengan beberapa guru sekolah bahasa Indonesia di beberapa tempat di negara Victoria, Australia.
Tradisi lisan atau folklor lisan bisa berbentuk cerita, teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Bentuk yang banyak kami gunakan adalah bentuk cerita dan fabel, misalnya cerita Nyai Roro Kidul dan Si Kancil Yang Cerdik dan pemutaran video Belajar dari Borobudur. Latihan yang dilakukan adalah mengasah aspek kemahiran membaca, kosakata, tatabahasa, menyimak, diskusi, dan penyajian lisan (bercakap), serta, akhirnya, menulis.
Australia telah menerbitkan berbagai macam buku pengajaran bahasa Indonesia. Antusiasme penerbit cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pengajaran bahasa Indonesia, baik kebutuhan dasar pengajaran untuk anak-anak maupun untuk orang dewasa. Akan tetapi, dari sekian banyak buku-buku yang diterbitkan tidak terlalu banyak yang menggunakan cerita tradisi lisan sebagai bahan pengajaran terutama untuk tingkat pemula.
Di antara buku-buku terbitan Australia untuk tingkat madya yang menggunakan tradisi lisan adalah buku karangan McGarry and Sumaryono (1994) yang membawakan Cerita Kancil dan Cerita Ken Arok. Soewito Santosa dan Sumaryono (1979) membawakan cerita Sangkuriang dan Lorojonggrang. White (1989) dan Hibbs et.al (1998), masing-masing menggunakan cerita Nyai Roro Kidul dan Tangkuban Perahu, tetapi dalam bahasa Inggris. Hardie et.al (2001) menggunakan 4 cerita tradisi lisan dalam bahasa Indonesia, yaitu Dewi Sri, Dongeng Minangkabau, Si Kancil yang Cerdik dan, kemudian, sebagai aktivitas dalam kelas, pembelajar harus mendengarkan cerita Seekor Kura-Kura dan Dua Ekor Angsa.

2. Tradisi Lisan : Apakah Penting?
Mengapa penggunaan tradisi lisan menjadi penting bagi pembelajar asing? Dalam contoh berikut ini, akan diuraikan bagaimana cerita rakyat disajikan sebagai bahan ajar di dalam kelas. Marilah, kita mengambil contoh dari cerita Nyai Roro Kidul berikut ini.
Tersebutlah Prabu Siliwangi yang terkenal arif bijaksana mempunyai seorang permaisuri yang sangat jelita di samping beberapa selir lainnya. Permaisuri memiliki seorang putri yang kecantikannya melebihi ibunya. Putri itu mendapat curahan kasih sayang yang menggunung dari kedua orang tuanya. Putri Kadita, demikian nama putri tunggal Prabu Siliwangi, mulai beranjak dewasa. Kearifan dan kebijaksanaannya mulai muncul. Tidaklah heran jika Sang Prabu, berniat mencalonkan putri menjadi putri mahkota. Rencana ini sangat tidak disukai oleh para selir, yang semuanya tidak memiliki keturunan. Selir-selir yang iri hati itu bersekongkol untuk mencelakakan permaisuri dengan putrinya. Melalui ilmu hitam yang dibuat para selir itu, permaisuri dan putrinya menderita penyakit kulit yang tak bisa disembuhkan.

1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran cerita tersebut dengan cukup baik, mula-mula pengajar membacakan cerita tersebut. Kemudian, pada siswa diberikan pertanyaan untuk mengetahui berapa persen dari jumlah siswa yang dapat menangkap cerita tanpa teks. Langkah berikutnya adalah mengajak siswa untuk mencatat kosakata yang tidak mereka mengerti dan kata kunci yang penting dalam cerita tersebut. Sesudah itu, salah seorang siswa diminta untuk menulis di papan tulis nama pemeran cerita dan bagaimana karakter/watak mereka. Hal yang menarik dari pengalaman kami adalah, tidak seperti biasanya, perhatian siswa terhadap cerita itu sangat besar. Setelah teks dibagikan, banyak pertanyaan yang diajukan dan kritik yang dilontarkan. Hal ini tidak terjadi jika mereka diberikan artikel yang panjang. Perhatian mereka seolah-olah tidak dicurahkan pada artikel yang mereka baca.
2. Kemudian setelah cerita mereka pelajari, pemahaman mengenai teks dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Untuk aktivitas berbicara, kami adakan diskusi di kelas. Dalam diskusi inilah, tanpa siswa sadari, mereka berbicara dalam bahasa Indonesia yang sederhana, tetapi cukup fasih meskipun membuat kesalahan di sana-sini. Hal yang penting adalah mereka sudah mempunyai keberanian dan kepercayaan diri bahwa mereka dapat berbicara dan berdiskusi dalam bahasa Indonesia.
3. Pelajaran perluasan kosakata pun dapat dilakukan dengan jalan mencari sinonim, memilih kata yang tepat, idiom dan ungkapan, mendeskripsikan makna, dan mencari pasangan kata. Misalnya, siswa harus mencari ungkapan yang terdapat dalam cerita dan mencari arti ungkapan tersebut dari kamus. Contohnya, ungkapan-ungkapan arif bijaksana, cantik jelita, iri hati, ilmu hitam, hutan belantara, segar bugar, serta merta dan kata-kata lain sejenisnya. Jadi, siswa pun terpaksa harus menggunakan kamus dan mencari tahu bagaimana caranya menggunakan kamus.
4. Hampir 90% pembelajar menyatakan bahwa tatabahasa adalah pelajaran yang paling membosankan. Langkah yang biasanya kami lakukan dalam pengajaran tatabahasa adalah menggunakan buku khusus tatabahasa dengan kalimat-kalimat yang satu sama lainnya tidak ada kaitannya, lepas konteks atau tidak dalam bentuk cerita. Melalui cerita rakyat, kami menyampaikan pengajaran tatabahasa. Meskipun kami tetap menggunakan buku khusus tata bahasa, tetapi kami mengambil contoh-contoh kalimat dari cerita rakyat tersebut. Dalam menerangkan tatabahasa, misalnya, ketika, menerangkan fungsi afiksasi ke-an, contoh kata dapat diambil dari teks, yaitu kearifan, kebijaksanaan, dan kecantikan. Kemudian, latihan yang dirasakan sulit oleh siswa adalah kalimat pasif dan aktif. Tugas mereka adalah mencari kalimat aktif dalam cerita dan menggantinya ke dalam kalimat pasif atau sebaliknya sehingga semua afiksasi dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam cerita tersebut dapat dijelaskan.
5. Dalam aktivitas menulis, siswa diharuskan mencari cerita tradisi lisan dari mancanegara atau dari negaranya sendiri. Cerita itu harus ditulis dalam bahasa Indonesia, dan siswa pun diharapkan menulis komentar atau pesan moral dari cerita tersebut. Komentar dan moral inilah yang cukup menarik. Seperti yang dikatakan oleh Italo Galvino dalam bukunya Italian Folklore Selected and Retold by Italo Galvino, dalam cerita tradisi lisan, banyak digambarkan kebaikan melawan kejahatan dan kebaikan akan selalu menang.
6. Latihan terakhir yang dilakukan adalah penyajian lisan dengan pilihan dalam bentuk pementasan melalui video atau di depan kelas. Tentunya, pementasan baik melalui video maupun penyajian lisan di depan kelas tersebut sangat menarik karena mereka harus menggunakan imajinasi mereka. Contoh yang dapat kami sajikan adalah pementasan melalui video Banyuwangi yang dibawakan oleh siswa Universitas Melbourne.

3. Nilai-Nilai Budaya
W.R. Bascom dalam bukunya Four Functions of Foklore (1954) mengatakan bahwa tradisi lisan/folklore mencerminkan suatu aspek kebudayaan, baik yang langsung maupun yang tidak langsung, dan tema-tema kehidupan yang mendasar, misalnya kelahiran, kehidupan keluarga, penyakit, kematian, penguburan dan malapetaka, atau bencana alam yang universal, seperti yang terdapat dalam cerita Nyai Roro Kidul, Hansel dan Gretel dan cerita lainnya.
Cerita tradisi lisan yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia yang berbeda ini mengandung norma-norma kehidupan yang patut dijadikan contoh dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari, tidak hanya di lingkungan sosial tertentu, tapi juga dalam lingkungan masyarakat luas pada umumnya. Tentu saja, ada beberapa aspek kehidupan dalam masyarakat Indonesia yang sulit diterima dan dimengerti oleh pembelajar asing karena, memang, kebudayaan Indonesia berbeda dengan kebudayaan bangsa lain.
Untuk memperkenalkan pembelajar pada geografi dan suku bangsa yang berbeda di Indonesia, penggunaan cerita tradisi akan sangat membantu. Misalnya, ketika pembuatan pengambilan video Banyuwangi siswa banyak bertanya tentang apa artinya Banyuwangi dan apakah itu nama orang atau tempat. Dalam kesempatan ini, banyak kebudayaan daerah itu diperkenalkan. Mulai dari bahasa, banyu yang berarti air dan wangi yang berarti harum baunya sampai pada geografi pulau Jawa. Seperti juga dalam cerita Nyai Roro Kidul, siswa belajar tentang kerajaan, dan nama-nama yang asing bagi mereka. Dalam Nyai Roro Kidul, siswa belajar tentang nama kota tempat Ratu Kandita menceburkan diri. Dengan sendirinya, mereka juga mempelajari nama lautan yang ada di sekitar Indonesia. Pengetahuan ini juga akan banyak membantu mereka ketika mereka belajar tentang musim di Indonesia dan akan menjelaskan bagaimana angin membawa hujan di daerah di Indonesia.
Cerita tradisi lisan Indonesia lainnya yang menjadi pilihan yang disukai pembelajar adalah cerita rakyat dari Kutai, Kalimantan Timur berjudul “Puan Tahun”. Ceritanya hampir sama dengan Jack and the Bean Stalk. Dalam cerita ini, tokoh cerita, ada kakak beradik harus mencari daun pisang ke hutan dan harus membunuh raksasa yang kejam. Sesudah mereka berhasil, mereka bercocok tanam padi. Kegiatan ini, seperti juga cerita Dewi Sri, memperlihatkan kebudayaan daerah yang menempatkan beras/padi sebagai makanan utama daerah tersebut.
Selain teks cerita, pembelajar juga menyaksikan video Belajar dari Borobudur. Audio visual ini sangat menarik minat pembelajar karena cerita rakyat, khususnya fabel, dipahat di batu. Video itu berwarna sehingga ceritanya mudah diikuti. Dari cerita ini, ada penjelasan bahwa satu setengah abad yang lalu Borobudur menjadi salah satu tempat ziarah terbesar di dunia.


4. Keunggulan Cerita Tradisi Lisan
Cerita tradisi lisan memiliki keunggulan dan kelemahan. Salah satu keunggulannya adalah jika dibawakan di kelas akan banyak menarik perhatian pembelajar. Terlepas dari menarik atau tidaknya, cerita tradisi lisan akan selalu hadir dalam kehidupan kita dan menambah kekayaan dalam kesusastraan suatu negara. Di antara keunggulan cerita tradisi lisan adalah:
a. Setiap waktu sampai kapan pun tradisi lisan bisa dipakai, tidak seperti artikel biasa yang mungkin dalam beberapa saat seolah-olah sudah ketinggalan zaman berhubung informasi yang disampaikan dalam artikel itu sudah tidak digunakan lagi.
b. Dengan menggunakan cerita tradisi lisan pembelajar dapat menyampaikan dalam media yang lain, misalnya sandiwara, peran serta (role play) ataupun pembuatan video. Catholic College Sale dalam kurikulum pengajaran bahasa dan kebudayaan Indonesia membawakan cerita tradisi lisan karena dianggap cukup digemari oleh siswa-siswanya. Untuk memudahkan pengertian siswa sekolah, bahasanya pun disederhanakan, kalimat-kalimat yang panjang menjadi kalimat yang lebih singkat dan mudah dimengerti oleh siswa, dan ceritanya disampaikan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
c. Seperti juga di Universitas Melbourne, Catholic College Sale juga menyajikan sandiwara kecil dan siswa-siswanya terlibat langsung dan mengambil peranan dalam alur ceritanya. Bedanya dengan pembelajar dari universitas, guru menyederhanakan percakapan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, tetapi ada beberapa narasi yang dibuat dalam bahasa Inggris. Jadi, pembelajar selain belajar bahasa juga belajar tentang budaya dan norma kehidupan orang Indonesia.
d. Kadang-kadang, cerita tradisi lisan sangat berpengaruh kuat pada pembelajar. Akibatnya, seorang pembelajar dalam konklusinya memberikan pendapatnya yang cukup mengesankan. Misalnya, dalam cerita tentang keong/siput yang sebenarnya merupakan penjelmaan seorang nenek sihir. Siput tersebut kemudian dibuang oleh pelayan dari seorang putri raja yang cantik. Marahlah sang siput/nenek sihir. Maka, si nenek sihir menyumpahi putri raja sehingga menjelma menjadi seekor angsa. Komentar pembelajar mengenai cerita tersebut adalah sejak membaca cerita itu, jika dia sedang berkebun, dia tidak pernah lagi membunuh siput dengan menginjaknya, tetapi memindahkannya ke tempat lain. Hal ini memberikan pelajaran yang positif untuk tidak menyakiti binatang atau mahluk hidup yang lain.
e. Dalam aktivitas menulis, ternyata, hasilnya cukup memuaskan jika dibandingkan dengan hasil tes tulisan lainnya. Nilai rata-rata kelas sekitar 78% dengan jumlah pembelajar 45 orang, sedangkan nilai rata-rata hasil kegiatan menulis lainnya hanya sebesar 70%.
f. Mungkin dapat juga diungkapkan dalam makalah ini bahwa di negara Barat cerita tradisi lisan banyak yang sudah difilmkan.

5. Kelemahan Cerita Tradisi Lisan
Australia, seperti juga negara Barat lainnya, banyak menggunakan cerita tradisi lisan dalam bentuk yang disebut nursery rhymes untuk anak-anak pre-school (Taman Kanak-Kanak) dan juga anak-anak yang sudah bersekolah. Akan tetapi, akhir-akhir ini, guru-guru sekolah maupun ibu-ibu rumah tangga agak enggan menggunakan nursery rhymes dengan berbagai alasan. Misalnya, terlalu banyak kekerasan dan sexism yang terdapat dalam cerita, dalam bentuk penyiksaan dan pembunuhan baik terhadap anak-anak kecil maupun orang dewasa. Mereka beranggapan bahwa seolah-olah fairy tales adalah tempat berkembangbiaknya kekejaman, kedengkian, dan dendam kesumat. Jika kita baca dan amati cerita Hansel and Gretel (Grimm Brothers) kita bisa melihat tidak saja ada unsur kekejaman dan kedengkian, tetapi juga seakan-akan tersaji unsur kanibalisme (tukang sihir yang hidup di rumah yang terbuat dari roti dan gemar makan anak-anak kecil). Unsur-unsur kekejaman seperti itu dapat pula ditemukan dalam cerita tradisi lisan Indonesia. Hal ini tidak mengherankan karena cerita tradisi lisan bersifat universal.
Cerita-cerita lisan pada abad ke-19 banyak memperlihatkan kekerasan, manipulasi psikologi, dan banyak pembunuhan. Semua cerita tradisi lisan diulang kembali dalam bentuk tulisan oleh orang dewasa. Kenyataan ini mempengaruhi persepsi anak karena hubungan emosional dengan cerita yang mereka ketahui waktu kecil sulit untuk dianalisa secara obyektif. Seakan-akan, cerita tradisi lisan hanya bisa dinikmati tetapi tidak untuk dianalisa. Seperti yang saya alami di kelas, pembelajar terkejut dan mengeluarkan komentar yang negatif bahwa cerita tradisi lisan Indonesia banyak mengandung kekerasan. Mereka lupa bahwa cerita Barat pun ada yang mengandung kekerasan. Mungkin karena semasa kecil mereka tidak bergitu memikirkannya dan belum dapat menganalisa isi cerita dan menyadari setelah kembali membaca cerita itu. Sewaktu pembelajar harus membandingkan salah satu cerita tradisi, misalnya Sangkuriang, dengan salah satu cerita Barat, ternyata mereka menunjukkan ketidaktahuan bahwa sejak zaman dahulu pun di Indonesia sudah dikenal adanya Oedipus Complex.

6. Penutup
Menurut pengamatan dan pengalaman saya selama mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing, tidak dapat dikatakan bahwa cerita tradisi lisan dalam pengajaran bahasa Indonesia hanyalah sebagai pelengkap saja. Semua komponen pengajaran bahasa Indonesia termasuk tata bahasa dan cerita tradisi lisan sama pentingnya. Pembelajar di Universitas Melbourne merasa terdorong untuk lebih memperhatikan cerita tradisi lisan, terutama bagi mereka-mereka yang menjadi guru sekolah di kemudian hari.
Bahasa Tetanggaku-Coursebook 2 (White, 1989) dan Kenalilah Indonesia 2 (Hibbs, 1998) yang banyak dipakai untuk siswa sekolah menggunakan cerita tradisi lisan dalam buku mereka. Hanya sayangnya, mereka menggunakan bahasa Inggris, sehingga tidak ada aktivitas yang dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan bahasa Indonesia siswa. Sebenarnya, akan lebih baik lagi jika cerita tradisi lisan diajarkan di tingkat pemula untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Cerita folklor rakyat atau tradisi lisan mencerminkan kebudayaan Indonesia, sehingga tidaklah lengkap jika mempelajari kebudayaan suatu tempat tanpa menggunakan cerita tradisi lisan.
Salah satu contoh buku yang memuat cerita rakyat dalam bahasa Indonesia adalah Suara Siswa Stage 3 dan 4, yang membawakan cerita Nenek Luhu dari daerah Maluku. Hardie et.al dalam buku Bersama-sama 2, membawakan 3 cerita tradisi lisan dari Indonesia yang masing-masing mencerminkan kebudayaan daerahnya dengan ilustrasi yang menarik dan bahasa Indonesianya disederhanakan agar dapat dimengerti oleh siswa sekolah. Untuk aktivitas kelas, dalam buku ini, disajikan sebuah cerita lagi, yaitu “Seekor Kura-kura dan Dua Ekor Ayam” yang memungkinkan siswa menggunakan kata-kata yang sudah mereka pelajari dalam berbicara maupun menulis. Buku-buku semacam inilah yang perlu diperbanyak dalam tingkat pengajaran pemula agar dapat dikembangkan di tingkat universitas.


Daftar Pustaka

Audio Visual. 1989. Belajar Dari Borobudur. Yogyakarta: Studio Visual Puskat.

Bacom, W.R. 1954. “Four Functions Of Folklore” dalam Journal of American Folklore.

Galvino, Italo. 1982. Italian Folktales:Selected and Retold By Italo Galvino. London: Penguin Books.

Grimms Brother. 1984. Hansel and Gretel. Illustrated by Paul Galdone. Tadworth: World’s Work Children’s.

Hibbs, Linda. 1998. Kenalilah Indonesia 2. Melbourne: Macmillan.

Legenda dan Cerita Rakyat Kutai. Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.

McGarry, J.D. and Sumaryono. 1994. Learn Indonesian Book 2. Chatswood, N.S.W.: MIP Publications.

National Indonesian Language Curriculum Project. 1979. Suara Siswa Indonesia Reader. Sydney: Ian Novak Publishing & Co.

White, Ian J. 1989. Bahasa Tetanggaku—Coursebook Stage 2. Melbourne: Longman.
Zipes, Jack. 1997. Happily Ever After:Fairy Tales, Children, and the Culture Industry. New York & London: Routledge.

Wawancara Dengan:

Cahidir, Widha, Catholic College Sale—Victoria
Hardie, Heather. Scotch College—Victoria
Kosasih, Putra. Sacred Heart Girls College—Victoria
Clarke, Sue. Co-author Bersama-sama 2

0 comments:

Post a Comment

Untuk berkomentar.Silahkan tinggalkan pesan dibawah iniI.Untuk semua pengguna pilih " beri komentar sebagai : ANONIMOUS "

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Google+ Badge

Google+ Followers

Copyright © 2012. Poetra Sentence™ - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Blog Bamz